Oleh: Kristianto S.N
Isya, Subuh, Zhuhur, Ashar, dan Magrib sangat tak asing ketika kata-kata tersebut
terdengar maupun terlihat disetiap rutinitas keseharianku. Entah mengapa,
didalam agama yang orang tua titipkan padaku, pembagian empat waktu dalam
sehari menurut islam itu dijadikan suatu momentum untuk lebih mendekatkan diri
atau menyembah kepada Zat Yang Maha Kuasa. Ya, sholat biasa orang-orang
menyebutnya. Aku masih ingat betul ketika aku masih kecil diajari bagaimana
tata cara mengerjakan sholat oleh guru TPA waktu itu. Mulai dari berwudhu,
gerakan, sampai kepada lafadz dan surat-surat pendek yang harus dilantunkan
ketika mengerjakan salah satu kewajiban mutlak di dalam ajaran agama Islam.
Bahkan sampai saaat ini, aku masih hafal betul bagaimana tata cara melakukan
ritual tersebut. Karena dahulu aku selalu melakukannya sebanyak 17 rakaat dalam
1 hari.
Namun sayangnya, semenjak aku menjadi dewasa
dan berfikir bahwa saat ini aku sudah tidak dapat dipaksakan lagi untuk
mengerjakan sholat oleh orang tuaku, aku jadi tidak pernah melakukan sholat lagi
sebanyak 17 rakaat dalam 1 hari.
Pertama-tama masih bolong-bolong, lama kelamaan ketagihan dan menjadi kebiasaan
untuk tidak mengerjakan sholat sekalipun dalam sehari. Sebenarnya dihati
kecilku bertanya-tanya, ada apa dengan diriku saat ini? Perubahan kian hari
bukan semakin bertambah baik, malah semakin bertambah buruk bahkan sangat
mengecewakan. Jujur aku berfikir apakah aku masih dianggap sebagai orang yang
memeluk keyakinan Islam? Ataukah aku harus pindah agama karena perintah
terpenting dalam suatu agama itupun tidak pernah aku jalankan?.
Kembali aku membuka rasionalitas pemikiran di
intuisiku yang terdalam bahwa sebenarnya untuk apa aku melakukan sholat?, apakah
agar aku dipandang orang lain karena aku masih menjalankan perintah-perintah
agama?, untuk masuk surga−kah yang sampai saat ini saja kita tak tau apakah
surga itu ada ataupun tiada?, atau agar mendapatkan pahala dari Allah yang
sampai saat ini kita tidak pernah tahu berapa banyak pahala yang kita miliki
dari perbuatan-perbuatan baik yang pernah kita lakukan sebelumnya? Apa manfaat
langsungnya untuk ku?!. Tidak ada, ucap salah satu pemikiran jahatku. Toh
ternyata, orang-orang yang rajin sholatnya−pun masih sering melakukan
kejahatan, bahkan banyak yang mengatasnamakan agama untuk menindas sesama dan
melakukan pemanfaatan uang masyarakat untuk kepentingan pribadi (korupsi). Jadi
untuk apa kita sholat jikalau berakhir seperti itu juga..???
Benar apa yang dibilang bang Mohali Achmad
pada saat memberikan materi dekonstruksi NDP disaat aku sedang mengikuti pelatihan
di salah satu organisasi kemahasiswaan. Bahwa sholat itu ternyata hanya
membuang-buang waktu saja, menyembah sesuatu yang sebenarnya kita tidak tahu
yang kita sembah itu apa, dan melakukan gerakan serta bacaan-bacaan aneh yang
sebenarnya banyak orang yang tidak tahu apa arti dari yang mereka lakukan itu!!.
Bahkan bukan hanya itu saja, ternyata sholat saat ini sudah banyak dijadikan
alasan bagi para karyawan untuk mengelak ketika terlambat masuk kantor pasca
istirahat makan siang. Jadi buat apa kita melakukan hal yang percuma dan tidak
efisien, lebih baik kita mengerjakan sesuatu yang lebih berguna sehingga kita
dapat memetik hasilnya kelak. Begitulah kata-katanya yang sampai saat ini masih
aku ingat dengan jelas, dan menusuk.
Sejenak aku terdoktrin dengan rasionalitas dan
intuisi pemikiranku sendiri. Otak, hati, batin, fikiran, perbuatan, dan ucapan
tidak dapat disingkronisasikan ketika aku memikirkan hal itu terus menerus.
Rasanya aku ingin berteriak, “ya Allah
ya Tuhan ku, jikalau kau memang ada, tolong berikan aku petunjuk dan mukzijat−Mu
saat ini juga..!!!”. Lalu aku tidak hanya tinggal diam karena aku menyadari
bahwa aku sudah sesat berfikir saat ini, dan dengan segera aku merapat ketempat
meja belajarku yang sudah lama tak ku pakai, disitu aku mencari-cari dimana
Al-Qur’an beserta terjemahannya yang pernah diberikan oleh almarhum Bapak ku. Subhanallah,
ternyata kitab itu sudah lama tak pernah ku jamah sehingga disekelilingnya dihiasi
oleh debu-debu yang melekat pada setiap sisi kitab itu. Ku bersihkan sedikit
demi sedikit sehingga mulai terlihat tulisan “Al Qur’an dan Terjemahannya”.
Sejenak ku peluk kitab itu karena aku menyesal telah menyia-nyiakannya selama
ini, hatiku pun sedikit tenang karena aku sudah memegang “Rules of The Game” nya kehidupan di Dunia ini. Namun walaupun
seperti itu, aku masih sedikit bingung darimana aku bisa menemukan apa yang aku
resahkan selama ini tentang sholat, apa fungsinya, dan kenapa kita harus
melakukannya.
Setelah ku mencari-cari selama beberapa jam,
akhirnya ada satu ayat yang mana ayat ini dapat menyadarkan aku betapa
pentingnya sholat bagi setiap manusia yang telah diciptakan Allah SWT. Ayat
tersebut ku dapati di surat Huud ayat 11 yang berbunyi: “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi
siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”
(11:114). Sungguh luar
biasa ketika aku membaca ayat ini, walaupun waktu untuk shalat tidak
keseluruhan dibahas pada ayat itu, akan tetapi ayat itu benar-benar menyatakan
bahwa ternyata shalat itu dapat menghapuskan dosa dari perbuatan-perbuatan
buruk yang selama ini kita lakukan dengan sengaja ataupun tidak. Selain itu,
aku juga mencari ke referensi buku lainnya tentang sholat. Ternyata sholat itu
tidak seremeh seperti apa yang aku duga sebelunya, beberapa keuntungan yang
kita bisa dapatkan secara langsung antara lain: 1) Bahwa pada shalat berjamaah
kita dapat memelihara silaturahmi kita dengan orang lain baik di lingkungan
tempat kita tinggal maupun tempat kita bekerja. 2) Dengan berwudhu terlebih
dahulu sebelum melakukan sholat, ternyata tubuh kita sebenarnya sudah
membiasakan hidup bersih, bebas kuman serta bakteri, juga virus-virus yang
menempel di tubuh kita disaat kita melakukan aktivitas sehari-hari. 3) Sebuah
riset yang dilakukan oleh Medical Center yang ada di Amerika menyatakan hasil
yang begitu mengejutkan tentang perbandingan orang yang suka sholat dengan yang
tidak, hasil penelitian itu menyatakan bahwa sholat dapat memberikan kekuatan
terhadap tingkat kekebalan tubuh orang-orang yang rajin melaksanakannya melawan
berbagai penyakit, salah satunya penyakit kanker. Riset itu mengungkapkan,
tubuh orang-orang yang shalat jarang mengandung persentase tidak normal dari
protein imun Antarlokin dibanding orang-orang yang tidak shalat. Itu adalah
protein yang terkait dengan beragam jenis penyakit menua. Para peneliti meyakini, ibadah dapat
memperkuat tingkat kekebalan tubuh karena menyugesti seseorang untuk sabar,
tahan terhadap berbagai cobaan dengan jiwa yang toleran dan ridha. Sekali pun
cara kerja pengaruh hal ini masih belum begitu jelas bagi para ilmuan, akan tetapi
cukup banyak bukti atas hal itu, yang sering disebut sebagai dominasi akal
terhadap tubuh manusia.
Anehnya, para peneliti yang telah melakukan
riset tersebut kebanyakan bukan dari umat muslim, dan mereka meyakini serta
menerapkan kebanyakan dari apa yang dihasilkan dari penelitian mereka, yang padahal
sebenarnya hal tersebut menjadi kewajiban umat muslim pada umumnya, bahkan
banyak juga peneliti-peneliti senior disana yang beralih memeluk agama Islam
karena begitu terkejutnya atas hasil penelitian yang mereka dapatkan. Hal
tersebut menjadi pokok perhatianku ketika yang notabennya non muslim saja
percaya, kenapa kita yang sebagai umat muslim tidak dapat percaya atau bahkan
melakukan atas apa yang diwajibkan oleh agama. Memang cukup sulit untuk
membentuk kebiasaan sholat di dalam kehidupan kita sehari-hari, namun kalau
tidak kita biasakan sejak dini, kapan lagi kita akan mulai terbiasa? Padahal
sudah jelas itu semua bermanfaat langsung bagi diri kita sendiri.
Jadi, tidak ada alasan lain lagi bagi diri kita
untuk tidak melakukan sholat.