English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Translet by Kristianto, SN
Tampilkan postingan dengan label Kemahasiswaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemahasiswaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2012

UNPAM BERGESER DARI TUJUAN AWAL


           Setelah berganti manajemen, maka berganti pulalah tujuan yang ingin dicapai oleh Universitas Pamulang. Tujuan dari Yayasan Sasmita Jaya adalah “mewujudkan suatu sarana pendidikan yang murah dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa melupakan kualitas dari pendidikan itu sendiri”. Kendati demikian, Universitas Pamulang selalu mengangkat tenaga-pengajar dan staff administrasi yang berkompeten di bidangnya. Unpam juga selalu melakukan pengembangan di bidang kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga seluruh lulusan Universitas Pamulang dapat diterima dengan baik dalam dunia kerja. Selain itu untuk menunjang kegiatan perkuliahan, Universitas Pamulang telah menyediakan berbagai macam fasilitas seperti laboratorium dan perpustakaan yang cukup memadai

Namun dewasa ini Aku Berfikir Bahwasanya ada yang sedikit mengganjal di hatiku, entalah apa yang sedang terpikirkan tapi ini adalah persoalan yang menyangkut kepentingan saudara- saudara ku juga di kampus ini. Keadaan ini sungguh memprihatinkan karena ada kampus yang jelas- jelas dalam tujuan visinya unntuk membantu warga masyarakat yang kurang mampu dalam mengenyam pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi , tapi kenyataannya hal ini sudah tidak sejalan dengan tujuan awal UNPAM di dirikan. Karena pada penerapannya, di dalam formulir pendaftaran calon mahasiwa baru UNPAM tahun 2012, disitu tertera bahwasanya calon mahasiswa teknik informatika di wajibkan memiliki laptop sendiri ketika ingin mengambil jurusan tersebut. Berikut saya paparkan beberapa persyaratan yang tercantum pada formulir pendaftaran calon mahasiswa baru tahun 2012 diantaranya antara lain:
  1. Membayar uang pendaftaran Rp. 100.000,
  2. Mengisi formulir pendaftaran,
  3. Membawa Materai Rp. 6.000,-
  4. Menyerahkan fotocopy ijasah SLTA / sederajat, Surat Tanda Lulus yang sudah dilegalisir (cap legalisir asli).
  5. Menyerahkan Pas Foto terbaru,
  6. Menyerahkan Fotocopy identitas (KTP,SIM,PASPOR),
  7. Lulus dalam tes Seleksi penerimaan Mahasiswa Baru UNPAM,
  8. Khusus calon Mahasiswa Program Studi Informatika harus memliki laptop.
Pertanyaannya, apakah yang sudah di lakukan UNPAM masih sama dengan tujuan awal berdiri dengan sekarang?. Saya rasa tidak karena hal itu terbukti dengan adanya beban kewajiban mahasiswa semester baru memiliki laptop sudah tidak relevan lagi dengan apa yang menjadi tujuan UNPAM[1]. Saya ingat satu hal pada saat  Ketua Yayasan Sasmita Jaya dalam acara kick andy  di Metro TV , dia mengatakan  bahwa UNPAM itu kepanjangan dari  “Universitas Paling Murah” tuturnya.

Kawan – kawan harus memahami bahwasanya ini semua terjadi karena ketidakpekaan kita terhadap masalah yang ada di kampus kita sendiri. Jikalau saja kita peka dan tidak egois, maka ini tidak akan terjadi. Lalu apa langkah kita untuk mengatasi masalah ini?, tentu ada jalan keluar dari setiap permasalahan. Misalkan saja biaya untuk membeli laptopnya ditalangi oleh pemilik yayasan terlebih dahulu, dan mahasiswa dapat menyicil pelunasan pada saat perkuliaan berjalan (dimasukkan dalam uang semesteran). Selaku pemegang kebijakan penuh, sudah sepatutnya pemilik yayasan mampu memberikan gagasan-gagasan jitu agar sesuai dengan cita-cita sebelumnya. Jadi UNPAM dalam hal ini juga ikut membantu terwujudnya jenjang pendidikan tinggi dan bukan hanya berorientasi untuk mengejar profit saja.

Jika permasalahan ini dibiarkan berlarut-larut, saya yakin unpam akan bergeser jauh dari tujuan awalnya yaitu membantu orang-orang yang kurang mampu untuk tetap ikut menikmati bangku perguruan tinggi.

 Penulis,
Hairil anuar. Fakultas Teknik Elektro Semester 1 Malam.
085714679654


[1] Dapat dilihat di http://unpam.ac.id.

SEANDAINYA AKU KETUA UMUM CABANG


Oleh: Kristianto S.N (Ketua Umum HMI KOMIPAM 2011-2012)

Berat memang rasanya menjadi salah satu anggota organisasi kemahasiswaan terbesar dan tertua saat ini mengingat begitu banyaknya persaingan didalamnya, ya HMI biasa orang-orang menyebutnya. Entah mengapa aku tertarik menggeluti HMI ini lebih dalam, padahal bisa dibilang HMI bukanlah organisasi yang pertama aku geluti. Toh aku juga mengenal HMI pun dari salah seorang teman sekelasku, waktu itu dia adalah salah seorang yang begitu bersemangat mengembangkan organisasi ini di kampus tempat aku menuntut ilmu.
Jujur saat itu aku memang benar-benar sedang mengkaji tentang agama atau keyakinan apa yang akan aku pilih untuk kehidupanku yang akan datang, mungkin karena aku berasal dari keluarga yang berbeda agama sehingga terkadang perdebatan masalah agama dengan orang tuaku mempengaruhi keyakinanku terhadap Tuhan. Ya Ayahku Protestan dan Ibuku Islam, kedua pencampuran keyakinan ini tidak menjadikannya salah satu halangan untuk membina keluarga, bahkan mereka dapat memadukannya menjadi satu keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah.
Ternyata, nama yang dititipkan orang tuaku pun berasal dari salah satu bahasa Yunani yang memang sangat diidam-idamkan salah satu orang tuaku dulu, Kristus atau yang dituangi minyak di kepalanya. Pada jaman dahulu, pengurapan biasa dilakukan di kalangan bangsa Israel sebagai tanda bahwa orang tersebut mendapatkan jabatan atau kedudukan khusus. Waw!, aku tercengang ketika mengetahui arti namaku yang sebenarnya. Aku menyadari bahwa ada kemungkinan orang tuaku memberikanku nama seperti ini adalah agar kelak diriku akan menjadi seorang pemimpin yang memiliki kedudukan khusus dimana dan kapanpun aku berada nantinya.
Alhasil prediksi orang tuaku tidaklah salah, di HMI aku benar-benar digodok dan diajarkan bagaimana menjdi seorang pemimpin, ditempa selayaknya aku tidak diberi keleluasaan untuk bersantai dan memanjakan diri, dipaksa untuk selalu berfikir dan bagaimana mengimplementasikan ide-ide yang telah ku desain selama ini menjadi kenyataan. Huh!, lelah rasanya, ternyata tidaklah mudah untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijaksana. Buatku, pemimpin tidaklah hanya sebatas memenangkan kompetisi pemilihan bangku pimpinan, pemimpin tidaklah hanya dapat memberi perintah kepada bawahan, ataupun memiliki kekuasaan yang sedikit jauh lebih berwenang dari orang yang dipimpinnya, di HMI aku tidak diajarkan seperti itu.
Mental kepemimpinanku dimatangkan ketika aku terpilih menjadi Ketua Umum Komisariat di kampusku. Konteks organisasi yang sangat kecil namun sangat sulit mengimplementasikan dan memadukan teori-teori kepemimpinan yang selama ini aku pelajari dari buku dan pengalaman-pengalaman orang lain. Disatu sisi aku harus menjalankan tujuan organisasi yaitu “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Yang Bernafaskan Islam Dan Bertanggung Jawab Atas Terciptanya Masyarakat Adil, Makmur Yang Diridhoi Allah SWT”, disisi lain aku harus menjalankan baktiku terhadap orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitarku, dan disisi lain lagi aku harus menjadi sosok seseorang yang mampu mengayomi orang lain sehingga orang tersebut menemukan jati dirinya itu seperti yang ia cita-citakan. Lelah, dan rasanya ingin sekali menyerah. Namun aku fikir itu bukanlah suatu solusi dari seluruh perjalanan hidupku.
Di HMI, aku belajar banyak tentang bagaimana menghargai orang lain, belajar bersabar, belajar memperbaiki diri, belajar mengalah, belajar tidak egois, dan belajar bagaimana mendisain suatu pekerjaan dan menjalankan dengan sesuai dari apa yang telah dirancang. Semua perubahan positif itu ku rasa tidak akan mungkin dapat terjadi ketika tidak adanya masukan, bantuan, dan kritikan, dan dorongan semangat dari kawan-kawan ku di HMI. Aku menjadi tidak merasa sendiri lagi dalam mengatasi seluruh permasalahan yang ada, dan itulah yang sebenarnya salah satu faktor yang membuatku sampai saat ini tidak mudah menyerah dan juga putus asa. Aku merasa memiliki keluarga baru lagi di HMI yang dapat selalu menemaniku, menolongku, mendukungku, melindungiku, juga memotivasiku untuk menjadi lebih baik sebagai pemimpin mereka.
Ternyata itulah arti dari kepemimpinan yang sebenarnya, selalu ada roda yang terus berputar antara pemimpin dan orang yang di pimpinnya. Seorang pemimpin juga harus siap untuk di pimpin, begitu juga seorang yang di pimpin harus selalu siap untuk menjadi pemimpin. Saat ini aku cukup bangga dengan jajaran kepengurusanku saat ini di komisariat, mereka sudah mampu mandiri, dewasa dalam berfikir, dan merencanakan sesuatu dengan cukup matang, dan cukup bertanggung jawab terhadap tanggung jawab yang sudah mereka emban. Walaupun terkadang hal tersebut masih fluktuatif karena mental kepemimpinan mereka belum tergodog secara kaffah, tp aku yakin suatu saat nanti mereka akan menjadi pemimpin yang terbaik dimanapun mereka berada.
Selain dari hal itu, syahwat kepemimpinanku semakin menjadi-jadi. Aku tidak hanya  merasa cukup untuk berada di tataran komisariat, aku merasa harus ada tantangan yang lebih besar lagi, sehingga aku bercita-cita untuk menjadi Ketua Umum Cabang nantinya. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk mencapai kesana, karena disana proses kompetisi akan sangat lebih besar lagi dibanding tingkatan komisariat. Aku harus lebih giat belajar dan berdoa, serta memperbanyak pengalaman dan silaturahmi. Tapi satu yang menjadi cita-citaku ketika aku di sana, “Pemuda Islam Tangerang Raya Yang Ter—Hijau Hitamkan”.

KENAPA AKU BUKAN MAHASISWA??

Stop Pembodohan Mahasiswa!!

Berat memang berdiskusi dengan kawan sebaya ku yang cukup pintar namun sayangnya dia tidak mengemban bangku perguruan tinggi, bahkan keinginannya untuk tidak menjadi mahasiswa itu ditanamkan sejak ia duduk di bangku SMA. Ketika ku berdiskusi dengannya, begitu kecil aku dibuatnya. Aku juga ingin menjadi seperti dirinya yang tidak mengemban tugas berat sebagai mahasiswa. Karena baginya, menjadi mahasiswa itu tidaklah mudah. Mahasiswa tidak hanya individu yang memiliki kesempatan lebih yang dapat mengemban pendidikan yang lebih tinggi, tidaklah hanya pemuda yang memiliki waktu luang, kesempatan, dan kebebasan yang lebih banyak dari yang lainnya. Baginya mahasiwa jauh lebih dari itu.

Paparnya, lebih baik tidak menjadi mahasiswa ketika kita hanya sebatas mendengarkan dosen berbicara di kelas-kelas yang terkadang ber-AC, lalu setelah itu pulang untuk kembali bersantai atau melanjutkan rutinitas kehidupan. Bukan juga hanya sebatas nongkrong dengan teman-teman sambil merasakan minuman alkohol serta beberapa jenis narkotika ringan. Mahasiswa bagi kawanku tidak hanya sebatas itu...!!
Baginya, mahasiswa merupakan MAHA-nya siswa. M-bahnya siswa, bahkan Buyutnya siswa. Segala sesuatu yang paling tinggi dibandingkan siswa apapun, dimanapun, dan kapanpun dalam suatu dinamika kehidupan manusia. Mahasiswa harus mampu menguraikan garis sebagai kesatuan dari titik-titik dalam suatu momentum waktu yang sangat terbatas, memiliki nalar yang begitu kritis, analisa yang begitu tajam, implementasi yang kongkrit, mampu menjadi agen  of change dari Bangsa ini, agen of controll dari pemerintah, panutan yang baik untuk keluarga, tetangga, maupun lingkungan sekitar. Tetapi intinya, mahasiswa harus mampu menembus batas ruang dan waktu dari apa yang hanya dapat dilakukan maupun diketahui oleh siswa setingkat SD, SMP, maupun SMA atau lebih lagi orang-orang kebanyakan yang tidak mengemban bangku pendidikan.

Ia memaparkan beberapa contoh orang-orang sukses sepeti ; Bill Gates kuliah hanya sebatas untuk mencari partner dan relasi, setelah itu ia bersama kawan-kawannya lebih fokus dalam menciptakan komputer serta jaringan komunikasi yang dapat menghubungkan manusia di seluruh penjuru dunia. Mark Zuckerberg pencipta facebook, ia sengaja untuk memilih Drop-Out dari Havard untuk lebih mengembangkan situs jejaring sosial yang sangat terkenal saat ini. Lalu di Indonesia ada Bob Sadino, Buya Hamka, AA. Gym, M.H. Ainun Najib, dan masih banyak yang lainnya.

Sejenak aku terseret ke dalam intuisiku yang terdalam dan memberikan batinku sebuah pertanyaan penting, “Apakah Aku Sudah Menjadi Mahasiswa?? ”. Sedih yang ku rasa bahwa sudah beberapa semester status mahasiswa kujalani tetapi aku belum dapat memahami esensi sebagai mahasiswa sejati yang seutuhnya. Lalu di akhir pembicaraan kawanqu berkata, “karena tugas berat itulah aku lebih memilih untuk tidak menjadi MAHASISWA ”.

Aku berfikir, aku galau, aku sedih, aku takut, dan semua itu bercampur menjadi satu setelah aku berdiskusi dengan temanku yang satu itu. Tetapi satu yang membuatku tetap terus semangat, bahwa aku masih memiliki waktu untuk merubah diriku.

Wassalam, 
Penulis

Kristianto S.N

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by KD SOLUTION | Bloggerized by KSN - Premium Blogger Themes | Yakin Usaha Sampai