Berat memang rasanya menjadi salah satu anggota
organisasi kemahasiswaan terbesar dan tertua saat ini mengingat begitu
banyaknya persaingan didalamnya, ya HMI biasa orang-orang menyebutnya. Entah
mengapa aku tertarik menggeluti HMI ini lebih dalam, padahal bisa dibilang HMI
bukanlah organisasi yang pertama aku geluti. Toh aku juga mengenal HMI pun dari
salah seorang teman sekelasku, waktu itu dia adalah salah seorang yang begitu
bersemangat mengembangkan organisasi ini di kampus tempat aku menuntut ilmu.
Jujur saat itu aku memang benar-benar sedang
mengkaji tentang agama atau keyakinan apa yang akan aku pilih untuk kehidupanku
yang akan datang, mungkin karena aku berasal dari keluarga yang berbeda agama
sehingga terkadang perdebatan masalah agama dengan orang tuaku mempengaruhi
keyakinanku terhadap Tuhan. Ya Ayahku Protestan dan Ibuku Islam, kedua
pencampuran keyakinan ini tidak menjadikannya salah satu halangan untuk membina
keluarga, bahkan mereka dapat memadukannya menjadi satu keluarga yang sakinah,
mawadah, dan warohmah.
Ternyata, nama yang dititipkan orang tuaku pun
berasal dari salah satu bahasa Yunani yang memang sangat diidam-idamkan salah
satu orang tuaku dulu, Kristus atau yang dituangi minyak di kepalanya. Pada
jaman dahulu, pengurapan biasa dilakukan di kalangan bangsa Israel sebagai
tanda bahwa orang tersebut mendapatkan jabatan atau kedudukan khusus. Waw!, aku
tercengang ketika mengetahui arti namaku yang sebenarnya. Aku menyadari bahwa
ada kemungkinan orang tuaku memberikanku nama seperti ini adalah agar kelak
diriku akan menjadi seorang pemimpin yang memiliki kedudukan khusus dimana dan
kapanpun aku berada nantinya.
Alhasil prediksi orang tuaku tidaklah salah, di
HMI aku benar-benar digodok dan diajarkan bagaimana menjdi seorang pemimpin,
ditempa selayaknya aku tidak diberi keleluasaan untuk bersantai dan memanjakan
diri, dipaksa untuk selalu berfikir dan bagaimana mengimplementasikan ide-ide
yang telah ku desain selama ini menjadi kenyataan. Huh!, lelah rasanya,
ternyata tidaklah mudah untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijaksana.
Buatku, pemimpin tidaklah hanya sebatas memenangkan kompetisi pemilihan bangku
pimpinan, pemimpin tidaklah hanya dapat memberi perintah kepada bawahan,
ataupun memiliki kekuasaan yang sedikit jauh lebih berwenang dari orang yang
dipimpinnya, di HMI aku tidak diajarkan seperti itu.
Mental kepemimpinanku dimatangkan ketika aku
terpilih menjadi Ketua Umum Komisariat di kampusku. Konteks organisasi yang
sangat kecil namun sangat sulit mengimplementasikan dan memadukan teori-teori
kepemimpinan yang selama ini aku pelajari dari buku dan pengalaman-pengalaman
orang lain. Disatu sisi aku harus menjalankan tujuan organisasi yaitu
“Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Yang Bernafaskan Islam Dan
Bertanggung Jawab Atas Terciptanya Masyarakat Adil, Makmur Yang Diridhoi Allah
SWT”, disisi lain aku harus menjalankan baktiku terhadap orang tua, keluarga,
dan lingkungan sekitarku, dan disisi lain lagi aku harus menjadi sosok
seseorang yang mampu mengayomi orang lain sehingga orang tersebut menemukan
jati dirinya itu seperti yang ia cita-citakan. Lelah, dan rasanya ingin sekali
menyerah. Namun aku fikir itu bukanlah suatu solusi dari seluruh perjalanan hidupku.
Di HMI, aku belajar banyak tentang bagaimana
menghargai orang lain, belajar bersabar, belajar memperbaiki diri, belajar
mengalah, belajar tidak egois, dan belajar bagaimana mendisain suatu pekerjaan
dan menjalankan dengan sesuai dari apa yang telah dirancang. Semua perubahan
positif itu ku rasa tidak akan mungkin dapat terjadi ketika tidak adanya
masukan, bantuan, dan kritikan, dan dorongan semangat dari kawan-kawan ku di
HMI. Aku menjadi tidak merasa sendiri lagi dalam mengatasi seluruh permasalahan
yang ada, dan itulah yang sebenarnya salah satu faktor yang membuatku sampai
saat ini tidak mudah menyerah dan juga putus asa. Aku merasa memiliki keluarga
baru lagi di HMI yang dapat selalu menemaniku, menolongku, mendukungku,
melindungiku, juga memotivasiku untuk menjadi lebih baik sebagai pemimpin
mereka.
Ternyata itulah arti dari kepemimpinan yang
sebenarnya, selalu ada roda yang terus berputar antara pemimpin dan orang yang
di pimpinnya. Seorang pemimpin juga harus siap untuk di pimpin, begitu juga seorang
yang di pimpin harus selalu siap untuk menjadi pemimpin. Saat ini aku cukup
bangga dengan jajaran kepengurusanku saat ini di komisariat, mereka sudah mampu
mandiri, dewasa dalam berfikir, dan merencanakan sesuatu dengan cukup matang,
dan cukup bertanggung jawab terhadap tanggung jawab yang sudah mereka emban.
Walaupun terkadang hal tersebut masih fluktuatif karena mental kepemimpinan
mereka belum tergodog secara kaffah,
tp aku yakin suatu saat nanti mereka akan menjadi pemimpin yang terbaik
dimanapun mereka berada.
Selain dari hal itu, syahwat kepemimpinanku semakin menjadi-jadi. Aku tidak hanya merasa cukup untuk berada di tataran
komisariat, aku merasa harus ada tantangan yang lebih besar lagi, sehingga aku
bercita-cita untuk menjadi Ketua Umum Cabang nantinya. Aku tidak tahu bagaimana
cara untuk mencapai kesana, karena disana proses kompetisi akan sangat lebih
besar lagi dibanding tingkatan komisariat. Aku harus lebih giat belajar dan
berdoa, serta memperbanyak pengalaman dan silaturahmi. Tapi satu yang menjadi
cita-citaku ketika aku di sana, “Pemuda
Islam Tangerang Raya Yang Ter—Hijau Hitamkan”.
20.57.00
K



0 komentar:
Posting Komentar
Koment DonK... DiSini sih Bebas Bicara Ok... SOBAT
DIANJURKAN : Supaya Ke INDEX sama Google Gunakan Alamat Blog/Web Site Anda .
Mau SPAM : Kalo mau SPAM Ga papa... Tapi jangan cuma copypaste doank ya (pake kata2 dikit kee).
Oh Ya... Sekalian Di KLIK Iklannya Mungkin Bisa Bermanfaat Untuk Anda.
Attention Please : Ingat kebebasan ada di tangan kamu sendiri. Aku tidak memaksa kamu membaca postingan-postingan disini. Jadi jangan kirim KOMENTAR ngamuk-ngamuk OK.