| Aksi Dinas Pendidikan Tangsel |
Aksi demonstrasi dilakukan HMI Pamulang menyusul banyaknya pelanggaran yang ditemukan dalam Perwal tentang sekolah gratis yang belum lama ini diterbitkan. Sejumlah sekolah ditengarai masih melakukan pungutan berkedok program sekolah yang harus didukung wali murid. “Salah satu temuan kami adalah di SD Negeri Pondok Benda I, kecamatan Pamulang. Sekolah tersebut masih memungut biaya 400 ribu rupiah setiap siswa” ujar Koordinator Lapangan, Muhammad Ibnu. Uang tersebut, katanya, adalah untuk pengadaan seragam sekolah, perbaikan keramik kelas atas, pengecatan ruang kelas depan, hingga pengadaan mebelair.
Padahal berdasarkan Perwal 61 tahun 2011, peserta didik sudah tidak lagi dipungut Dana Sumbangan Pendidikan ( DSP ). “Mana komitmen Pemerintah Kota Tangsel untuk menindak tegas sekolah yang melanggar Perwal” cetus Muhammad Ibnu seraya mengatakan Perwal tersebut hanyalah pengalihan issue atas masih maraknya pungutan liar di sektor pendidikan.
Selain menuntut akses pemerataan pendidikan bebas pungli, massa juga menuding sector pendidikan di Kota Tangsel marak dengan praktek korupsi. Berdasarkan temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK ) RI korupsi, kelebihan pembayaran rehabilitasi sekolah dan pembangunan SDN mencapai 227.174.308 rupiah. “Maraknya praktek korupsi membuat anggaran pendidikan beralih fungsi untuk kepentingan pribadi aparat dan pejabat” ungkap Muhammad Ibnu.
Setelah berorasi panjang lebar bahkan sempat ricuh, massa tetap tidak berhasil membuat satu orang pejabat Diknas datang menemui mereka. “Kantor ini tetap digembok. Mathodah juga tidak mau menemui kami. Maka kami berjanji akan megerahkan massa lebih banyak lagi demi menuntut pendidikan adik adik kami” pungkas Ibnu.
Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, Dedi Rafidi menuturkan, dugaan korupsi yang disampaikan mahasiswa melalui selebaran, akan dilakukan tindak lanjut."Kami akan tindak lanjuti mengenai kebenaran surat tersebut, apalagi data tersebut dikatakan berasal dari BPK," katanya menjelaskan.
Pihaknya pun berharap agar ke depannya, mahasiswa dapat melakukan audiensi dalam menyampaikan aspirasinya, bukan dengan anarkis. "Bila dengan aksi demo, kami khawatir akan menimbulkan sifat anarkis. Tetapi bila adanya audiensi maka semua aspirasi akan tersampaikan," katanya. (Kristianto S.N)
19.58.00
K

